Jakarta (Humas UNAS) – Kunjungan benchmarking Institut Tarumanegara ke Universitas Nasional (UNAS) tidak hanya membahas sistem penjaminan mutu, tetapi juga mendalami pengelolaan laboratorium serta sistem evaluasi kompetensi mahasiswa.
Pada sesi pemaparan, Sekretaris Program Studi Pendidikan Profesi Ners UNAS Ns. Aisyiah, M.Kep., Sp.Kep.Kom., menjelaskan peran strategis laboratorium dalam mendukung proses pembelajaran.
“Laboratorium menjadi bagian penting dalam pembelajaran, sehingga pengelolaannya harus terstruktur dan sesuai standar,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Prodi Profesi Ners UNAS mengembangkan pendekatan keperawatan holistik yang mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, spiritual, dan lingkungan. Hal ini mendorong pengembangan fasilitas laboratorium yang lebih komprehensif.
Fasilitas tersebut meliputi laboratorium keperawatan dasar, medikal bedah, maternitas dan anak, gawat darurat, hingga keperawatan keluarga, komunitas, dan gerontik. UNAS juga mengembangkan laboratorium keperawatan holistik yang mendukung layanan seperti bekam, akupresur, dan konseling.
Selain itu, Penanggung Jawab Objective Structured Clinical Examination (OSCE) UNAS Ns. Diah Argarini, S.Kep., M.Kep., CWCCA, memaparkan pelaksanaan OSCE sebagai bagian dari evaluasi kompetensi mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa OSCE telah dilaksanakan sejak 2020 dan terstandarisasi secara nasional sejak 2022. Sistem ini menjadi salah satu syarat kelulusan sebelum mahasiswa mengikuti uji kompetensi nasional.
Pelaksanaan OSCE di UNAS dilakukan secara terstruktur, mulai dari penyusunan blueprint, bank soal, hingga pengelolaan sumber daya seperti penguji, laboran, dan klien standar. Ujian dilaksanakan melalui 11 stasiun dengan berbagai kompetensi yang diuji, termasuk komunikasi, pengkajian, diagnosis, dan perilaku profesional.
Rangkaian kegiatan juga mencakup pemaparan inovasi digital, seperti website BPM, aplikasi SIMONAS, sistem Audit Mutu Internal (AMI), dan SIPENA yang mendukung pengelolaan mutu berbasis teknologi.
Diskusi interaktif menjadi bagian penting dalam kegiatan ini, dengan berbagai pertanyaan terkait implementasi teknis dan strategi pengembangan SPMI di masing-masing institusi.
Melalui kegiatan ini, kedua institusi diharapkan dapat memperkuat sinergi serta mendorong peningkatan mutu pendidikan tinggi secara berkelanjutan. (*Dimas Wijaksono)





